HIDUP SEKALI, HARUSLAH PENUH ARTI

HIDUP SEKALI, HARUSLAH PENUH ARTI

 

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْيَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِل ْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِ يْكَ  لَهُ ، وَأَشْهَدُأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

Alhamdulillah. Tidak pernah lelah lisan kita memanjatkan syukur dan tahmid kepada Dzat Yang selalu melimpahkan karunia dan anugerah tak berbatas kepada makhluk Nya. Walaupun pada setiap waktu yang melintas, kita mencoba merenungkan luasnya rahmat dan kasih sayang-Nya, tidak akan pernah berhenti kita di sebuah penghujung.

Shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada kekasih dan junjungan kita, penutup para nabi dan Rasul, Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib. Juga kepada
keluarga, shahabat, dan setiap insan yang meneladani kehidupan beliau.

Ma ’asyiral muslimin,
rahimakumullah

Seorang muslim harus memahami makna kehidupan. Sekali hidup harus penuh arti. Sebab, kesempatan hidup di dunia hanyalah sekali dan tidak akan terulang kembali. Kala kematian telah datang, maka usai sudah kesempatan untuk mengumpulkan bekal guna menghadapi perjalanan panjang menuju alam akhirat. Oleh sebab itu marilah kita mencari bekal denga sebaik-baiknya. Allah berfirman:

 وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

”Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”
[Q.S. Al Baqarah: 197].

Hadirin, rahimakumullah

Hidup sekali harus penuh arti. Lalu, apakah tujuan manusia dicipta di dunia❓Jawabannya, mengisi dan menghiasi hidup dengan ibadah. Maka, sejak manusia mampu mendengar dan melihat di masa kecilnya, orang tua diharapkan telah mulai mengenalkan kepadanya nilai-nilai ibadah. Ketika ia mulai tumbuh dan berkembang, ajaran- ajaran Islam telah mulai ditanamkan kepadanya. Dengan harapan, saat mencapai usia baligh, ia benar-benar telah siap menjadi seorang hamba yang cinta dan gemar beribadah. Menjadi hamba yang terus berbuat, tak pernah Ielah untuk berkarya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

”Berikanlah perintah kepada anak-anakmu untuk menegakkan shalat mulai mereka berusia tujuh tahun. Dan berikanlah pukulan untuk mereka (agar menegakkan shalat) pada saat mereka masuk usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah ranjang mereka.” [H.R. Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash رضي الله عنهما, dishahihkan oleh syaikh Al Albani رحمه الله dalam lrwaul Ghalil].

Kaum muslimin, rahimakumullah

Hidup yang penuh arti adalah hidup yang tidak pernah lepas dari ibadah. Inilah hakikat dari kehidupan seorang muslim.

Apabila kita mencoba mengamati ruang kehidupan muslim, sejak ia membuka mata hingga memejamkan kembali, ia selalu bersentuhan dengan bentuk-bentuk Ibadah. Ia mulai harinya dengan doa dan dzikir, kemudian ia menutup aktivitas kesehariannya dengan doa dan dzikir sebelum berbaring tertidur di atas ranjangnya.

Aisyah, ibunda kita, menuturkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

”Dahulu Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap waktu.”
[H.R. Al Bukhari dan Muslim].

Rasulullah ﷺ telah menggambarkan secara utuh tentang kepribadian seorang muslim, ia senang dan bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Seorang muslim haruslah mempunyai cita-cita mulia dan tekad yang membaja. la menggantungkan cita-cita tersebut dengan memohon pertolongan dari Allah, sambil terus berikhtiar. la tidak pernah surut atau pantang untuk menyerah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِا للهِ وَلَا تـَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam melakukan hal yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.”
[H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه].

Seandainya pun cita-cita tersebut gagal diraih, ia tidak akan kecewa dan berkecil hati. Sebab, ia telah berupaya sepenuh tenaga. Dan ia yakin, Allah tidak akan mungkin menyia-nyiakan usaha tersebut. Allah berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَٰی

“Maka Robb mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki atau perempuan.’ [Q.S. Ali lmran: 195].

Kaum muslimin, rahimakumullah

Hidup sekali haruslah penuh arti. Demikianlah prinsip seorang muslim. Dia terus berusaha agar bisa berbagi dan memberi manfaat bagi yang lain. Dia ingin menjadi orang yang selalu diharapkan kebaikannya, orang lain pun tidak pernah khawatir dan cemas terhadap keburukan dirinya. Maka, alangkah merugi dan menyedihkan kondisi seorang hamba yang *orang lain telah berputus pengharapan dari kebaikannya. Bahkan orang lain selalu khawatir dari keburukan-
keburukannya.*

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَ لا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ كُمْ مِنْ شَرِّ كُمْ؟ خَيْرُ كُمْ مَنْ يُرْ جَى خَيْرُ هُ وَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لا يُرْ جَى خَيْرُ هُ وَ لَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Maukah kalian aku beritakan tentang orang terbaik dan terburuk di antara kalian❓ Orang terbaik adalah seseorang yang kebaikannya selalu diharapkan dan tercegah keburukannya. Orang terburuk adalah seseorang yang tidak diharapkan lagi kebaikannya, dan keburukannya tidak dapat dicegah.” [H.R. At Timidzi dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani رحمه الله].

Mudah-mudahan, Allah melimpahkan taufik dan hidayah untuk kita semua, agar tetap bersemangat untuk membuat hidup lebih berarti. Semoga.

وَآخِرُدَعْوَانَا أَنِ الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

📚 Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًامُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَاوَيَرْضَاهُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ٠أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهَ وَحْدَهُ لا
شَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ :

Ma ’asyiral muslimin, Jama’ah shalatJum’at, rahimakumullah

Dengan memerhatikan khutbah pertama di depan, maka tentulah salah satu dari keinginan dan harapan kita adalah konsisten dan teguh di atas ibadah hingga meninggalkan dunia fana ini.
Mudah-mudahan Allah memudahkan kita dalam meraih husnuI khatimah; akhir kehidupan yang baik. Amin.

Salah satu faktor yang akan membantu kita dalam istiqomah untuk menjadikan hidup lebih berarti adalah dengan mengingat-ingat kembali tujuan kita diciptakan di dunia. Saat hal itu selalu ada di benak kita, seolah-olah selalu hadir di antara kedua pelupuk mata, maka kita pun akan termotivasi untuk mengisi hari-hari di dunia dengan ibadah. Agar hidup sekali penuh dengan arti.

Disebutkan dalam biografi seorang ulama besar di masanya. Al Imam Abu Zur’ah رحمه الله, di saat-saat terakhir hidup sebelum wafat, beberapa ulama dari kalangan sahabat karibnya datang menjenguk. Pada saat itu, salah seorang yang hadir bertanya kepada yang Iain, “Apakah engkau mengetahui hadts tentang talqin (menuntun orang yang sekarat mengucapkan syahadat) kalimat Laa Ilaaha Illallah❓” Orang itu menjawab, “lya.“ Hadits dari Muadz bin Jabal.” Seketika itu juga, Imam Abu Zur’ah yang sedang sakit menambahkan dengan sanad hadits yang lengkap sampai kepada Muadz bin Jabal رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa saja yang kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah “Laa Ilaaha Ilallah”, maka ia akan masuk surga.” [H.R. Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh AI A|bani رحمه الله]. Setelah selesai membacakan hadits tersebut, Imam Abu Zur’ah pun meninggal dunia. Semoga Allah merahmati beliau.

Hadirin, rahimakumullah

Demikianlah hidup yang penuh dengan arti. Sampai akan memejamkan mata untuk yang terakhir kalinya pun, seorang hamba berusaha untuk tetap berhias dengan ibadah. Hal itu akan mudah bagi yang dimudahkan Allah. Maka marilah memohon kemudahan kepada Allah agar kita mampu meraih khusnul khatimah.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon khusnul khatimah kepada Mu, dan kami berlindung kepada Mu, ya Allah, dari su’ul khatimah.

✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹
Kami sengaja tidak menyertakan doa penutup KHUTBAH JUM’AT agar khatib dapat memilih dan menentukan doa yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹

🌏📕 Sumber ||
Majalah Qudwah Edisi 01

(Sudah Mendapatkan Ijin Untuk Di Share Oleh Redaktur Pelaksana Majalah Qudwah, Ustadz Abdurrahman حفظه الله)

Tinggalkan Balasan