Mukmin Lebih Mulia Dari Pada Malaikat

2 menit baca
Mukmin Lebih Mulia Dari Pada Malaikat
Mukmin Lebih Mulia Dari Pada Malaikat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, salah satu sahabat terdekat Rasulullah ﷺ menegaskan

“المُؤمن أكْرم عَلى الله مِن ملائكتِه.”

“Seorang mu’min lebih mulia di sisi Allah daripada malaikat-malaikat-Nya.” [Ad-Dur Al Mantsur 5/315]

Pernyataan ini menjelaskan kedudukan seorang mukmin dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengapa seorang mukmin, yang pada hakikatnya manusia dengan segala kelemahannya, lebih mulia daripada malaikat yang sempurna ketaatannya kepada Allah Ta’ala? Apa yang membuat hamba mukmin memiliki kedudukan istimewa di hadapan Sang Pencipta?

Salah satu interpretasi yang mendalam adalah kisah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam alaihis salam atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terabadikan di dalam Al-Qur’an. Tentu bukan dalam rangka ibadah karena tidak boleh sujud kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada nabi Adam alaihis salam. Ini salah satu bukti bahwa seorang mukmin lebih mulia daripada malaikat.

Seorang mukmin juga memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai amalan mulia yang tidak ada pada para malaikat. Di antaranya adalah sabar untuk meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan dalam Islam dan bertaubat kepada Allah Ta’ala ketika terjatuh dalam kesalahan atau ibadah yang lainnya.

Setiap langkah, setiap pilihan, dan setiap usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala memiliki nilai yang besar di sisi-Nya. Oleh karena itu, meskipun malaikat adalah makhluk mulia dan selalu taat serta penuh kemuliaan, keutamaan seorang mukmin yang berjuang dan berusaha untuk mencapai kebaikan lebih mulia di hadapan Allah Ta’ala. Allahu a’lam

Pesan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memicu refleksi mendalam tentang makna kehidupan manusia dan perannya dalam ciptaan Allah. Ini memperkuat keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk mencapai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya melalui iman, ketekunan, dan kebaikan. inilah mengapa manusia mempunyai kedudukan yang lebih mulia dihadapan Allah ‘azza wa jalla.

Abu Ammar Ahmad

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

Lainnya

Kirim Pertanyaan