Hakikat Orang Berilmu Dan Orang Bodoh

2 menit baca
Hakikat Orang Berilmu Dan Orang Bodoh
Hakikat Orang Berilmu Dan Orang Bodoh

Ilmu adalah cahaya yang menerangi kegelapan hati dan jiwa manusia. Sebagai salah satu anugerah terbesar dari Allah ﷻ, ilmu memiliki peran sentral dalam membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Namun, kehadiran ilmu tidaklah menjamin kedalaman kebijaksanaan seseorang. Sebagai refleksi dari hal ini, seorang tabi’in terkemuka, Masruq rahimahullah, menyampaikan pesan bijaknya tentang hakikat orang berilmu dan orang bodoh.

كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللَّهَ , وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ

Cukuplah seseorang dikatakan berilmu tatkala dia takut kepada Allah Ta’ala dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh ketika dia merasa bangga diri dengan amalannya.
Thobaqat Sa’ad 6/80

Kutipan singkat ini merangkum hakikat sejati dari ilmu dan kebijaksanaan. Pertama-tama, sejauh mana ilmu seseorang berarti, tergantung pada takwa dan ketakutan yang dimilikinya terhadap Allah ﷻ. Seorang yang berilmu seharusnya tidak hanya mengumpulkan pengetahuan semata, tetapi juga menggunakannya sebagai pijakan untuk menguatkan rasa takutnya kepada Sang Pencipta. Ini tanda ilmu yang bermanfaat. Yaitu ilmu yang memunculkan rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Ketakwaan adalah landasan yang mengarahkan ilmu ke jalan kebenaran. Ketika ilmu digunakan untuk mencari ridha Allah ﷻ dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat manusia, maka itulah hakikat sejati dari seorang yang berilmu. Ketakwaan membimbing seseorang untuk menggunakan ilmu dengan penuh kesadaran dan etika, karena ilmu yang tanpa takwa berpotensi menjadi alat untuk menyebarkan kejahatan dan kerusakan.

Orang yang merasa bangga dengan amalannya cenderung menolak kritik dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Mereka terjebak dalam pandangan sempit dan tidak membuka diri untuk pengetahuan baru. Merasa dirinya benar sehingga merendahkan orang lain. Bangga diri bisa menjerumuskan seseorang kepada kesombongan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Aamiin Yaa Rabbal Alamin.

Abu Ammar Ahmad

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari)

Lainnya

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan, نحنُ ينقُصُنا في علمنَا أنَّنَا لا نُطبِّق ما عَلِمْنَاهُ على سلوكنَا ،...
  • Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, إنه اليوم الذي يُستحب أنْ يُتفرغ فيه للعبادة، وله على سائر الأيام مَزِيَّةٌ بأنواع...
  • Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberikan nasihat tentang pentingnya mengingat kematian. Dalam perkataannya yang ternukilkan di Manaqib asy-Syafi’i (2/295), beliau...
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan, وأما الحسد فيلقيه الشيطان في قلب بني آدم، وهو من أردى الأخلاق،...
  • Pernikahan adalah salah satu sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang sangat dianjurkan dalam Islam. Menikah tidak hanya untuk...
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menegaskan, وأنا – والحمد لله – لست بمتعصب، ولكن أحكّم الكتاب والسنة، وأبني...

Kirim Pertanyaan