Menyandarkan Nikmat Kepada Pemiliknya

2 menit baca
Menyandarkan Nikmat Kepada Pemiliknya
Menyandarkan Nikmat Kepada Pemiliknya

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah memberikan pandangan yang sangat mendalam terkait sikap manusia terhadap kenikmatan yang diberikan Allah. Beliau menekankan bahwa ketika kita mendapatkan nikmat, sangat penting untuk tidak menyandarkannya hanya kepada sebabnya secara terpisah dari Allah Ta’ala.

Dalam salah satu perkataannya, beliau menyatakan,

“والواجب على الإنسان إذا جاءته النعمة أن لا يضيفها إلى أسبابها مجردة عن الله، بل يعتقد أن هذا سبب محض إن كان هذا سببا”

“Yang wajib bagi seorang hamba apabila ada kenikmatan yang menghampirinya adalah tidak menyandarkan nikmat itu kepada sebabnya tanpa disandarkan kepada Allah Ta’ala. Bahkan yang harus dia yakini adalah bahwa itu hanyalah sebab semata jika memang itu adalah sebabnya.” (Al Qoul al-Mufid 375)

Pandangan ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan asal-usul kenikmatan yang kita nikmati. Sebagai contoh, ketika seseorang meraih kesuksesan dalam pekerjaan atau mendapatkan kesehatan yang baik, hal ini mengingatkan kita bahwa sebab-sebab tersebut hanyalah perantara yang Allah Ta’ala ciptakan untuk hamba-Nya. Maka, penting bagi kita untuk menyandarkan nikmat tersebut kepada Pemilik sejati segala nikmat yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan mengatakan misalnya, “Alhamdulillah pekerjaan atau kesehatan ini semata-mata anugrah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dengan memahami konsep ini, manusia diingatkan akan ketergantungan kepada Allah. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah bagian dari takdir-Nya. Sikap bersyukur dan tawakal kepada-Nya menjadi semakin kuat ketika kita menyadari bahwa setiap kenikmatan yang kita rasakan hanyalah karena kehendak-Nya.

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah juga mengajarkan bahwa mengaitkan nikmat kepada sebabnya secara mutlak dapat menjerumuskan seseorang pada perbuatan syirik, yaitu menyekutukan Allah. Misalnya seseorang mengatakan, “Kesembuhan ini karena kepandaian dokter atau obatnya yang mujarab.”

Oleh karena itu, penting untuk menjaga keyakinan dan ucapan bahwa setiap kenikmatan adalah rahmat dari Allah semata.

Dalam menghadapi kesuksesan atau cobaan, pemahaman ini memberikan landasan kuat bagi seorang Muslim untuk tetap rendah hati dan berserah diri kepada Allah. Kenikmatan yang didapatkan bukanlah hasil dari kemampuan atau kepandaian semata, melainkan kehendak Allah Yang Maha Bijaksana.

Dengan demikian, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari pandangan Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin. Menyandarkan nikmat kepada Pemiliknya bukan hanya sikap bijak, tetapi juga bentuk tauhid yang mengokohkan iman dan tata cara hidup seorang Muslim dalam mengarungi lika-liku kehidupan.

Semoga kita senantiasa dapat mengaplikasikan nilai-nilai luhur ini dalam setiap aspek kehidupan kita, sehingga setiap nikmat yang diberikan Allah dapat benar-benar membawa kita lebih dekat kepada-Nya.

Abu Abdillah Dendi

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Lainnya

  • Abu Darda’radhiyallahu’anhu berkata, “علامة الجاهل ثلاث: العجب وكثرة المنطق فيما لا يعينه وأن ينهى عن شيء ويأتيه.” “Ciri orang...
  • Islam adalah agama yang relevan untuk semua zaman, ulama memberikan pandangannya tentang masa-masa yang penuh dengan keburukan dan perilaku...
  • ‘Auf al-A’rabi rahimahullah menyatakan, “من أخلاق المنافق يحب الحمد ويكـره الذم.” “Di antara akhlak orang munafik adalah menyukai pujian...
  • Ibnul Jauzi rahimahullah menyatakan, ” وأيُّ موعظةٍ أبلغُ مِن أن ترى ديار الأقران ، وأحوال الإخوان ، وقبور المحبُوبِين...
  • Bakr bin Muhammad rahimahullah menyatakan, ما رأيت بن عوف شامتا أحدا قط عبدا ولا أمة ولا شاة ولادجاجة ولا...
  • Syaikh Rabi’bin Hadi al-Madkhali hafidzahullah berkata لا نعطي قداسةً لأفكارِ أحدٍ أبدًا كائنًا مَن كان؛ فالخطأ يُردُّ من أيِّ...

Kirim Pertanyaan