Catatan Perjalanan Santri

Catatan Perjalanan Santri

Artikel ini diambil dari tulisan asli berjudul “Catatan Jurnalistik: Melihat Kehidupan di Balik Pagar Pesantren” di buku “Aku Bersyukur Menjadi Santri”

Potret kesederhanaan terekam di salah satu ‘Pusat Pendidikan Islam’. Ia terletak di sebuah kecamatan di Pulau Jawa. Abdullah — bukan nama aslinya —  merupakan salah seorang santri yang menjadi saksi hidup atas kesederhanaan di pusat pendidikan tersebut.

Pemuda kelahiran abad ke-20 ini mengenang kembali kisah indahnya. Bermula dari tahun 2003 ia mulai menginjakkan kaki di halaman pesantren. Bahkan, pada saat itu dia masih menginjak usia 6 tahun. Ini merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya untuk tinggal jauh dari orang tua.

“Di saat anak-anak seusia kami sedang bermanja ria dengan orang tuanya, kami lebih dulu ditakdirkan untuk menjalani kehidupan di dalam ‘pagar pesantren’ demi menimba ilmu agama,” tuturnya mengenang masa-masa saat menjadi santri.

Abdullah seperti halnya para santri lain. Tanpa memandang perbedaan umur, hari-hari mereka jalani dengan menempuh jenjang studi awal, Tahfidzul Qur’an (program menghafal Alquran).

“Sekitar pukul 07.30 , kami sudah berbaris antri dengan rapi untuk persiapan setoran hafalan. Waktu itu, kami berbaris 2 jalur. Ustadz nya cuma satu. Namun, beliau biasa menyimak dua santri sekaligus dalam satu waktu, ” katanya mendeskripsikan saat-saat indah itu.

Beragam tantangan kesederhanaan

Menempuh jenjang pendidikan di pesantren memang sarat dengan arti kesederhanaan. Apalagi di zaman itu ekonomi mayoritas pesantren belum ‘baik-baik saja’. Bahkan menurut Abdullah, ia pernah beberapa kali terpaksa meminum air kran untuk mengusir dahaga.

Kesederhanaan ini juga tercermin dari ketersediaan konsumsi pesantren. Namun ada satu poin penting yang menjadi sorotan. Semua ‘tantangan kesederhanaan’ ini tak lantas menyurutkan nyali belajar mereka.

Ada banyak kenangan yang dialami Abdullah. Semua kenangan tersebut bertajuk ‘kesederhanaan’ semasa ia menjalani hari-harinya. Namun justru kesederhanaan itu sendiri akan berefek positif untuk pendidikan karakter para santri.

“Kesederhanaan yang telah mereka rintis ketika belajar akan menjadi bekal besar ketika di medan dakwah. Jadi, cita-citanya tidak ingin selalu dimuliakan, dijamin, dan dimudahkan (segalanya)

“Bekal kesederhanaan (merupakan) senjata dalam menghadapi kepahitan saat berdakwah nanti, ” kata Ustadz Abu Ubaidah Abdurrahman, mudir Ma’had Darul Hadits, Bekasi Jawa Barat. 

Kesederhanaan yang dijalaninya semasa menghirup udara pesantren tak hanya tercermin dari segi konsumsi semata. Asrama yang menjadi tempat berteduh nya pun bukan istana megah. Namun, ia hanyalah sebatas bangunan tua yang terletak di pelosok desa. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan glamor perkotaan. Hal ini pun menjadi bekal keberhasilan para santri untuk mewujudkan suasana belajar yang kondusif.

Dihantui Rindu

Abdullah memang beralamat di kampung yang tidak begitu jauh. Perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai di pesantren hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Cukup singkat. Namun, bagi anak seusianya di saat itu, batasan ‘jarak’ seolah menjadi momok yang menakutkan. Pasalnya, ia kerap kali harus melewati ‘drama’ tangisan seorang anak pada saat orang tua harus melepasnya di pesantren. Dramatis! 

“Harap maklum, kami dulu memang begitu. Biasanya, kalau habis liburan kemudian diantar ke pesantren. Atau mungkin juga waktu dijenguk,” kenangnya singkat.

Tangisan air mata kerinduan memang menjadi hal yang lumrah. Teman-teman sejawatnya pun mengalami hal yang sama. 

Ada satu hal yang cukup mengejutkan, ternyata di pesantren tersebut ada banyak santri dari luar jawa. Tentu, dalam kurun waktu 1 tahun pun belum mesti mereka mendapat ‘kesempatan’ untuk pulang karena tuntutan finansial. Namun Abdullah melihat bahwa santri-santri luar jawa seolah memiliki mental yang begitu kuat. Sungguh hebat!

Dilema orang tua

Siapa yang tega untuk jauh dari sang putra. Namun, para orangtua memang sedang dilema. 

Masa keemasan putra mereka tak ingin lenyap begitu saja. 

Melongok lebih jauh, para salaf telah menanamkan pendidikan agama sejak dini. Saat itu, pendidikan berbasis agama Islam yang murni belum menjamur di seantero negeri. Masih jarang-jarang, yang adapun masih serba pas-pasan dan jarak tempuhnya pun cukup lumayan. Mungkin itulah yang melatarbelakangi para orang tua untuk menitipkan putra mereka di pusat pendidikan Islam berbasis pesantren kala itu.

Hal ini dapat dibuktikan saat Abdullah telah melalui beberapa waktu. Akhirnya ia ‘ditarik’ kembali ke kampung halaman. Kabar gembira telah tiba. Ternyata, di kampungnya sendiri baru saja berdiri sebuah pesantren anyar.

“Kami mondok di sana nggak lama banget, sih. Kurang lebih satu tahun. Sebab, beberapa saat kemudian ada pesantren juga di kampung kami, ” ungkap Abdullah.

Nyantri di rumah sendiri

Nafas lega telah berhembus. Kini, ia tak lagi perlu menembus waktu 1 jam untuk menerobos ‘pagar’ pesantren. Ia bahkan telah bertetangga. Berangkat ke majelis dapat ditempuh hanya dengan cara satu lompatan saja. Tak sampai 1 menit.

Sekarang, rindu tak lagi menghantui. Momok menakutkan bernama jarak pun telah Ia ‘taklukkan’. Abdullah mengawali generasi peradaban baru di pesantren anyar yang kala itu baru dihuni oleh 7 orang santri saja. Sebuah pengalaman indah yang tidak akan ia lupakan.

Di hari pertama masuk sekolah Abdullah mengenang bahwa dialah orang kedua yang menginjakan kaki di halaman pesantren. Rupanya, ia sedang berlomba cepet-cepetan dengan tetangga dekatnya. Sejarah baru Pondok Pesantren Al-Anshar dimulai.

Lika-liku perjalanan akan selalu ada. Di awal perintisan nya, ketersediaan konsumsi belum memadai. Akhirnya, setiap orang tua menjadi ‘koki’ bagi putranya sendiri. Seusai salat Dzuhur, mereka mengantar ‘catering’ untuk putranya masing-masing. Namun, dengan semua keterbatasan di awal perintisan, pesantren tersebut tetap mampu bertahan.

Masjid Pondok Pesantren Al-Anshar [https://alanshar.ponpes.id/]

Abdullah pernah merasakan hal yang unik. Selama beberapa lama, ia selalu menduduki peringkat 2 teratas di kelasnya. Maklum saja, anggota kelas saat itu hanya berjumlah 2 anak didik; Abdullah dan sahabat karibnya.

“Pengalaman belajar yang seru dan asyik sih, terasa lebih santai. Seakan tidak ada beban berat (dari) materi pelajaran. Masa belajar yang menyenangkan, ” kenang Abdurrahman yang menjadi satu-satunya teman sekelas.

Hal Senada juga diungkapkan Ustadz Abdul Ahad. Beliau merupakan salah satu guru Abdullah kala itu. Rupanya, jumlah santri yang sedikit tidak membuat kobaran semangat belajar menjadi sempit.

“Mengajar murid yang sedikit itu lebih ringan daripada yang jumlahnya banyak. Lebih bisa terkondisi dan fokus. Sang guru bisa fokus dengan materinya dan sang murid juga bisa fokus dalam menangkap pelajaran, ” ungkapnya, yang hingga kini masih menjadi staf pengajar di Ponpes Al-Anshar.

Mengawali generasi

Mengawali generasi di sebuah pesantren akan dipenuhi dengan perjuangan. Hal inilah yang dirasakan Abdullah. Apalagi, saat itu bangunan pesantren terletak di ‘alam perkebunan raya’ yang masih sangat asri. Pemukiman warga masih sedikit. Meskipun seiring perkembangan zaman, tempat tersebut kelak justru akan menjadi pusat keramaian. Namun, masa-masa awal akan selalu menyisakan kenangan.

“Dahulu setiap habis selesai ta’lim Isya di masjid perumahan, kita diboncengin sama ami-ami (paman) naik motor Astrea bertujuh untuk uji nyali dekat kuburan. Terus disuruh balik ke pondok satu per satu, kadang di takut-takutin, ” kenang Abdul A’la yang turut ‘mengawali generasi’ sekitar tahun 2005 silam di Al-Anshar.

Kisah perjalanan pesantren pun diwarnai dengan sejuta cerita. Kembang-kempis kehidupan akan selalu menyertai. Hal yang paling Abdullah ingat, ia pernah mendapati masa di saat hanya memiliki satu-satunya pengajar tunggal. Beruntung, pesantren tersebut masih bisa bertahan ditengah badai krisis pengajar kalah itu.

Peristiwa saat krisis pengajar menghantam, pihak pesantren benar-benar berupaya mempertahankan satu-satunya pengajar tersebut. Menurut Abdullah, beliau ibaratnya menjadi jembatan penyelamat atas ketersambungan estafet kegiatan pendidikan di pesantren hingga kini.

Saat itu, para santri cilik pun harus menembus jalan sekitar 300 meter untuk menuju masjid. Malam yang gelap dan rintik hujan seolah tidak menjadi momok yang menakutkan bagi santri-santri kecil. Benar, pendidikan agama sejak dini telah berpengaruh besar pada karakter pemberani seorang santri.

“Tahun 2006, setiap hari ana nyamperin Fulan untuk berangkat bareng ke masjid perumahan sebelum adzan pertama. Kita muroja’ah nya di sana, ” kenangan Abdul A’la yang merupakan tetangga Abdullah.

“Padahal komplek pondok waktu itu masih seperti hutan. Tidak ada bangunan sedikitpun, kecuali hanya beberapa rumah ikhwah, ” imbuhnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, pesantren tersebut semakin mencuat ke permukaan. Terbukti, banyak sekali dijumpai migran yang sekarang tinggal di area kompleks Ponpes Al-Anshar. Mereka berasal dari berbagai penjuru di Indonesia. Tak mengherankan, tempat ini ternyata menjadi pusat pertemuan ustadz-ustadz se-nusantara pada agenda Dauroh Nasional yang diadakan setiap tahun.

Terus berbenah

Berbagai kemajuan terus diupayakan. Hal yang paling berarti bagi Abdullah adalah kurikulum pendidikan yang semakin tertata rapi. Menurutnya, kurikulum yang sudah tertata sedemikian rupa akan membuat proses belajar mengajar semakin efektif.

“Tidak seperti awal-awal dahulu. Kurikulum belum paten. Jadi, dalam satu materi pelajaran saja bisa tidak selesai-selesai,” ungkap Abdullah.

Kegiatan-kegiatan eksternal pun sudah diwujudkan. Jadwal olahraga beladiri dan kegiatan camping pun telah dirilis. Hal ini tentu menjadi faktor pemantik api semangat para santri di tengah kejenuhan belajar.

Memang, pendidikan di dalam ‘pagar’ pesantren tak melulu berorientasi pada pendidikan ilmu agama semata. Ada banyak hal di luar itu yang turut masuk dalam program pembelajaran. ini menjadi pembekalan bagi para santri didik saat mereka setelah lulus nanti. Minimalnya, menghilangkan rasa bosan yang akan menjadi faktor penghambat dalam belajar.

Menurut Abdul Mun’im (21), santri program spesialis pendidikan sanad al-Quran dari pesantren Al Faruq, Kalibagor, Banyumas, pada kegiatan camping terdapat pelatihan dalam penerapan ilmu yang telah mereka pelajari. Begitu pula adab dan akhlak mereka akan lebih tampak titik di sisi lain, hal itu juga akan menyenangkan mereka dan tidak sia-sia.

Hal senada juga diungkapkan Abdul Hamid (25), ex-santri Darul Atsar Temanggung yang kini tinggal di kota Jizan, kerajaan Saudi Arabia, bahwa ‘kegiatan eksternal’ dapat menjadi obat anti jenuh yang acap kali menghantui para santri saat mereka telah penat. 

Tanpa kegiatan tersebut, seorang santri bisa saja hadir di majelis, tetapi tanpa konsentrasi. Hal ini pun memberikan pemahaman bagi santri bahwa saat-saat futur (jenuh dan bosan) harus tetap dimanfaatkan dalam kegiatan positif.

Itulah kehidupan di balik ‘pagar’ pesantren. Selain dididik dengan ilmu agama, santri akan dibekali dengan beragam ‘kegiatan eksternal’ lainnya. Karena itu, tak jarang lulusan pesantren memiliki bekal agama yang mumpuni sekaligus mendapat keahlian khusus. Hal ini merupakan bukti nyata dari kampanye #AkuBersyukurMenjadiSantri untuk menyadarkan setiap elemen masyarakat akan keunggulan pendidikan di pesantren.

Jadi santri baru lagi

Abdullah yang telah jatuh hati dengan Ponpes Al-Anshar tak melulu bisa terus belajar di sana. Berbagai ilmu dan pengalaman juga kenangan tidak bisa ia lupakan. Hidup menyantri memang sangat indah. Namun, akan lebih indah lagi bila ia dapat melanjutkan studinya di pendidikan tingkat lanjut.

Sayang, Abdullah memang berada di kelas perintis tak dapat lagi melanjutkan belajarnya di sana. Pasalnya, krisis pengajar terjadi lagi. Akhirnya, Abdullah yang belum puas dalam berguru ilmu agama harus segera menentukan pilihan. Singkat cerita, setelah bermusyawarah dengan keluarga, Ia memutuskan untuk hijrah ke salah satu Pondok ternama di Jawa Tengah.

Lembaran baru kembali dibuka. Darul Atsar, sebuah pesantren yang memiliki letak geografis yang sangat menawan. Ia beralamatkan di kecamatan Kedu Temanggung Jawa Tengah. 

Kondisi alam yang hijau menyelimuti bumi Darul Atsar. Pegunungan indah mengitari buminya. Sindoro dan Sumbing merupakan dua gunung besar yang seolah menjadi simbol khas Pesantren tersebut. Pasalnya seolah kedua gunung itu menjadi background pesantren yang akan turut memanjakan mata para santri.

Dari Aceh hingga Ambon, bahkan dari Negeri Jiran pun tak ketinggalan. Mereka hidup dengan damai di bawah atap Pesantren. Abdullah berjumpa dengan ratusan kawan baru yang berasal dari berbagai suku. Benar, ini merupakan euforia yang tidak akan pernah ia dapatkan kecuali di pesantren.

Banyak hal baru

Abdullah rupanya sangat bersyukur. Wajar saja, banyak sekali hal baru yang ia dapatkan. Di samping ia harus belajar menggunakan ‘kitab kuning’ yang ‘gundul’, Abdullah kala itu masih berusaha keras untuk bisa membacanya tanpa bantuan harokat. Pasalnya, di pesantren sebelumnya ia masih belum menggunakan ‘kitab kuning’, hanya mengandalkan modul pesantren.

“Waktu pertama kali masuk, kami heran dengan teman-teman senior yang sudah bisa baca kitab dengan sangat cepat. Bahkan, saking cepatnya, seolah mereka sedang baca tulisan latin,” kenang Abdullah.

Tak perlu waktu yang lama, Abdullah dapat mengejar ketertinggalan. Wajar saja, setiap harinya ia disuguhkan dengan ‘kitab kuning’. Tak lupa, ia selalu berusaha untuk bisa. Akhirnya, sebuah perjuangan tidak akan ada yang sia-sia.

Sudut Perpustakaan di Masjid Umar, Pondok Pesantren Darul Atsar

“Alhamdulillah”, ucap Abdullah bersyukur.

Ada satu hal yang patut diacungi dengan 4 jempol. Pesantren ini selalu mengajari santrinya untuk Mandiri. Jadi, seluruh aktivitas di dalam ‘pagar’ pesantren hanya dikontrol oleh para santri di bawah naungan ‘Lajnah Thalabah’, atau lebih dikenal dengan OSIS jika di sekolah.

Berbicara soal masalah keamanan pesantren, ketertiban hingga konsumsi, semuanya dikontrol oleh para santri. Rupanya, ini membuat Abdullah begitu takjub. Ia akan belajar banyak ketika bergabung dengan komunitas Lajnah Thalabah. Di dalamnya, Ia juga akan mempelajari bagaimana cara menghadapi masalah dan pentingnya musyawarah.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Abdul Ghofar (28), mantan ketua Lajnah Thalabah periode 2015-2016, bahwa ketergabungan para santri dalam lajnah thalabah akan mengajari mereka bagaimana cara menghadapi beragam problem dan urgensi sebuah musyawarah saat memutuskan suatu masalah.

Benar saja, menjadi seorang santri memang patut disyukuri. Apalagi, modal utama dalam menjalani kehidupan di masa mendatang akan mereka dapatkan. Terlebih lagi, apabila seorang santri proaktif pada kegiatan sosial di dalam lingkup internal pesantren.

“Ikut dalam ta’awun kepengurusan di pesantren merupakan sebuah anugerah besar. Banyak pengalaman yang akan diraih. Seperti memecahkan masalah, menghadapi karakter santri yang beragam dsb. Yang tak kalah pentingnya, ini juga akan melatih kedewasaan, ” kata Abdul Wahid (28) yang juga pernah menjabat sebagai ketua Lajnah Thalabah periode 2016-2017.

Bagi Abdullah sendiri, ia pernah mendapatkan pengalaman menyenangkan. Pasalnya, ia pernah tergabung pada gugus tugas jurnalistik santri. Divisi inilah yang nantinya akan mengurusi mading pesantren, seperti menyusun jadwal penulis, menyeleksi, bahkan menilai . Untuk diketahui, Darul Atsar merupakan pesantren yang begitu gencar mengampanyekan urgensi jurnalistik. Beberapa tahun silam, al-Ustadz Qomar Suaidi Lc; selaku pimpinan pesantren pernah memberikan motivasi yang membakar semangat para santri dalam dunia kepenulisan.

 “3 buku beliau bahwa di hadapan para santri,” ungkap Abdurroqib A.Md. (26), Seorang lulusan sarjana Informatika yang akhirnya nyantri.

Rupanya, buku-buku tersebut bermuatan ujaran provokasi serangan musuh-musuh dakwah terhadap sunnah. “Mereka tidak bermalas-malasan dalam memerangi sunah. Mereka berjuang, rela berkorban, rela membuat tulisan dan media-media lain,” tegas Ustadz dalam majelis tersebut.

“Persiapkan diri! Jangan malas-malasan!” tegur beliau sembari memotivasi para santri untuk aktif dalam menulis. Hal ini rupanya menjadi sebab utama lahirnya sebuah majalah santri yang bernama ‘Uswah — berperangai kan sunnah’. Majalah tersebut merupakan salah satu karya besar santri Darul Atsar yang cukup membanggakan. Di kemudian hari, majalah ini pun didistribusikan ke beberapa pesantren di Indonesia.

mesin tik dan cover majalah uswah
Salah satu edisi Majalah Uswah – karya santri Darul Atsar

Beruntung, Abdullah yang sebelumnya menjabat pada divisi jurnalistik, kini ia dapat mengepakkan sayapnya untuk bisa tergabung dalam tim majalah. Di sisi lain, dia juga pernah mengikuti seminar desain yang diselenggarakan resmi oleh pihak pesantren. Sehingga ia dapat berkontribusi di bagian desain dan layout majalah.

“Luar biasa, sih. Kita di pesantren mengejar ilmu agama. Namun, yang kita dapatkan justru lebih banyak daripada itu. Keterampilan yang lain juga bisa kita kuasai,” Abdullah mensyukuri statusnya sebagai santri.

Wajar saja, banyak dijumpai lulusan sarjana yang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studinya di pesantren, alias nyantri. Seperti yang dialami oleh Abdurrahman, S. P. (28) lulusan sarjana pertanian .

“Awalnya merasa bosan. Sumpek dengan hidup. Aktivitas cuma itu-itu saja. Bangun tidur, kerja, pulang, lalu tidur lagi. Seakan-akan kehidupan hanya sebatas itu, “katanya.

“Sebelumnya hanya ada keinginan kuat untuk belajar Bahasa Arab agar memahami Al-Qur’an. Alhamdulillah Allah kemudian beri kemantapan, bisa fokus di pondok. Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar ilmu syar’i, ” imbuhnya yang memang nyantri dalam keadaan ‘sudah berumur’.

Pegang tali tanggung jawab

Bagi Abdullah, banyak sekali kenangan di pesantren yang tidak mampu dia lupakan. Namun, satu hal yang begitu berkesan adalah saat ia menjadi ketua asrama. Pihak pesantren memang membagi para santri menjadi beberapa klaster. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengawasan dan kepengurusan dalam lingkup internal.

Ibaratnya, ia harus momong adik-adik kelasnya yang menjadi anggota kamar tersebut. Ia bertanggung jawab penuh atas kedisiplinan teman-temannya; seperti mengawasi jam tidur , membangunkan, memperhatikan kerapian, juga ketertiban asrama, program-program ini tentu sangat bermanfaat.

Menurut Abdul Hadi (19), menjadi ketua asrama akan memberikan banyak sisi positif. “Melatih sikap kedewasaan dan tanggung jawab. Senang (juga) karena bisa belajar banyak hal sih,” imbuhnya yang menjadi ketua klaster sebelah Abdullah.

Tak cukup di situ, Pesantren Darul Atsar juga memberikan program kemusyrifan. Hal ini dikhususkan bagi mereka yang telah menyelesaikan seluruh jenjang studi. Mereka akan bertugas selama 1 tahun untuk mendidik santri Tahfidz (sekitar usia 10-16 tahun). 

Abdullah rupanya mendapatkan pengalaman yang sangat banyak. Pasalnya ia ‘dianugerahi’ 20 anak untuk ia didik.

“Kalian di sini latihan mendidik anak orang lain dulu sebelum mendidik anak sendiri nantinya,” ungkap salah seorang pengurus sambil tersenyum.

Masjid Umar bin Khotob, tempat Ibadah dan Menuntut Ilmu Agama

Benar saja, mendidik tidak bisa serampangan. Harus punya ilmu dan pengalaman. Abdullah rupanya berusaha menyatu dengan anak-anak yang telah di’anugerahkan’ kepadanya. Selama 24 jam dan 7 hari Abdullah selalu berbaur bersama mereka dan berperan bak seorang kakak di pesantren. Hal ini ia jalani selama satu tahun penuh.

Akhir Perpisahan

Abdullah benar-benar jatuh hati dengan bumi Darul Atsar. 

Teramat banyak kenangan yang ia tidak mampu ceritakan dalam lembaran ini. Berbagai perasaan syukur yang mendalam ia rasakan karena telah memilih jalan hidupnya sebagai seorang santri. 

Akan ada cerita yang berbeda dari setiap pesantren yang pernah ia singgahi. Namun, semua telah memberikan pelajaran sekaligus pengalaman berharga untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Jadi, jangan heran jika Abdullah akan selalu mengucapkan, “Aku (sangat) bersyukur menjadi seorang santri… “

Akhirnya, hari perpisahan pun tiba. Sebuah momen mengharukan yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.

“Waktu itu pamitan sama anak-anak Tahfidz. Tiba-tiba mereka pada ngasih kado. Padahal mayoritas mereka uang jajannya juga pas-pasan. Tapi mereka justru punya inisiatif sendiri untuk memberi hadiah,” kenang Abdullah menceritakan detik-detik akhir di Darul Atsar yang penuh haru. (AM) 

Santri, meneruskan perjalanan ……

Tinggalkan Balasan