Mengihklaskan Niat Ketika Berkurban

2 menit baca
Mengihklaskan Niat Ketika Berkurban
Mengihklaskan Niat Ketika Berkurban

Berkurban merupakan salah satu ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia dan salah satu bagian dari pelaksanaan ibadah haji. Ibadah ini memiliki makna yang mendalam dan tujuan yang luhur, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengikuti jejak-jejak kesalehan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim alaihis salam dalam pengorbanannya. Dalam pelaksanaan ibadah kurban, selain melaksanakan tata cara yang benar, penting bagi setiap Muslim untuk mengihklaskan niatnya agar ibadah tersebut mencapai keridhaan Allah.

Ayat yang terdapat dalam Surah al-Hajj ayat 37 mengingatkan kita tentang pentingnya mengihklaskan niat ketika berkurban. Allah berfirman,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj : 37)

Ayat ini menyiratkan bahwa kurban dalam bentuk daging dan darahnya tidaklah menjadi sumber keridhaan Allah. Meskipun daging dan darah hewan kurban memiliki nilai manfaat bagi manusia, tetapi keridhaan Allah tidak terletak pada materi yang diperoleh dari kurban tersebut. Yang sebenarnya dapat mencapai keridhaan Allah adalah ketakwaan dan kesalehan yang ada dalam hati setiap individu mm muslim yang berkurban.

Dengan mengihklaskan niat ketika berkurban, seseorang menyadari bahwa tujuan berkurban bukan semata-mata untuk memperoleh manfaat materi, tetapi lebih kepada peningkatan ketakwaan, kesalehan, dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Ketakwaan ini tercermin dalam setiap langkah yang diambil selama pelaksanaan ibadah kurban, seperti memilih hewan kurban yang baik, melaksanakan penyembelihan sesuai dengan syariat, dan mendistribusikan daging kepada mereka yang berhak menerimanya.
Ingat kurban bukan adat kebiasaan dan tradisi manusia. Kurban adalah ibadah sehingga harus diniatkan dengan ikhlas untuk mencari keridhoan Allah Ta’ala.
Allahu a’lam

Abu Hanan Faozi

“Barang siapa yang keluar (rumah) untuk mencari ilmu maka dia termasuk orang yang berada di jalan Allah sampai dia pulang.” HR. At-Tirmidzi)

Lainnya

  • Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “من صفات علماء الآخرة: أن يعلموا أن الدنيا حقيرة، وأن الآخرة شريفة. وأنهما كالضرتين،...
  • Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu menyatakan, مِن الجفاء أن تسمع المؤذن ثم لا تقول مثل ما يقول “Di antara (tanda)...
  •   Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “يستحب التكبير في العيدين للمسلمين رجالًا ونساءً من غروب الشمس ليلة عيد...
  • Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ﻭﺻﺢ ﻋﻨﻪ – صلى الله عليه وسلم – ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﺎﻙ ﻭﻫﻮ ﺻﺎﺋﻢ ....
  • Imam asy-Syaukani rahimahullah menyatakan, ‏”إِنَّمَا سُمِّيَ رمضان لأنهُ يَرْمِضُ_الذنوب ‏أي : يحرقها يذيبها لما يقع فيه من العبادة.” “Sesungguhnya...
  • Mencari Kemuliaan Yang Hakiki Pencarian akan kemuliaan telah menjadi aspirasi banyak orang sepanjang sejarah manusia. Di tengah berbagai perspektif...

Kirim Pertanyaan