Hukum Shalat Jamaah Dan Jum’at Bagi Musafir

25-11-2021 | 387 dilihat | Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله

Pertanyaan :

Sebagian orang bermudah-mudahan dan sebagian yang lain bersikap ekstrim perihal melakukan jamak dalam shalat. Sebagian yang lain mengatakan, 'Jika telah menetap di tempat yang dituju, maka dia hendaknya menjamak. Sebagian yang lain menyatakan, 'Tidak demikian, jamak dilakukan ketika safar terasa berat dalam perjalanan'. Benarkah yang demikian ini?

Jawaban :

Jamak bagi musafir adalah sunnah ketika dibutuhkan. Yang demikian itu jika seseorang terus melanjutkan perjalanannya. Maka dia melakukan jamak taqdim jika itu mudah baginya atau jamak takhir jika itu lebih mudah baginya.

Adapun jika dia telah mukim di sebuah negeri atau tinggal di tempat peristirahatan di darat, maka lebih utama untuk tidak menjamaknya. Namun jika dia menjamaknya, maka boleh.

Apabila seorang musafir tinggal di sebuah negeri, maka wajib untuk menghadiri shalat jamaah. Tidak boleh dia meninggalkan shalat berjamaah dengan dalih karena statusnya sebagai musafir. Karena musafir tidak gugur shalat Jum’at dan Jama’ah jika dia telah tinggal di suatu negeri. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْع

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (QS. al-Jum’ah : 9)
Sedangkan musafir masuk dalam cakupan orang-orang yang beriman pada ayat di atas dan juga karena Allah Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam agar shalat bersama para sahabatnya secara berjamaah ketika terjadi peperangan dan peperangan tersebut tidaklah terjadi melainkan ketika safar.

Adapun ucapan yang populer di kalangan masyarakat, bahwa shalat berjamaah dan Jum’at telah gugur dari seorang musafir, maka keabsahannya perlu ditinjau ulang. Karena sesungguhnya para ulama rahimahumullah telah menegaskan bahwa orang yang tinggal di suatu negeri wajib melakukan shalat Jum’at. Namun mereka mengatakan bahwa shalat tersebut wajib bersama dengan selainnya.

Rujukan : Silsilah Al-Liqaa al-Bab al-Maftuh 2

Pertanyaan Lainnya

Hukum Memakai Kendaraan Perusahaan Atau Dinas Untuk Pribadi
18-11-2021 | 706 dilihat | Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله
Hukum Mengambil Imbalan Dari Ruqyah
27-10-2021 | 449 dilihat | Al-Lajnah ad-Daimah lilbuhuuts al-Ilmiyah wal Ifta'
Apakah Boleh Tiba Dari Safar Menqashar Shalat Di Rumah ?
14-10-2021 | 567 dilihat | Ustadz Qomar ZA, Lc حفظه الله
Bidadari Bagi Lelaki Penghuni Surga, Bagaimana Dengan Wanita Penghuni Surga?
08-12-2021 | 343 dilihat | Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله
Masuk Shaf Ketika Imam Sedang Ruku’
18-10-2021 | 383 dilihat | Syaikh al-Utsaimin رحمه الله

Pertanyaan Populer

Hukum Membaca Al-Qur’an Tanpa Tajwid
06-04-2019 | 2459 dilihat | Syaikh al-Utsaimin رحمه الله
Hukum Suami Melihat-lihat Hp Istri Dan Sebaliknya
03-11-2021 | 1607 dilihat | Syaikh Shalih al-Fauzan حفظه الله
Sikap Yang Benar Terhadap Pengemis
30-10-2021 | 1593 dilihat | Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله
Bacaan Dzikir Setelah Shalat Wajib
20-10-2021 | 1455 dilihat | Syaikh Abdulaziz bin Baz رحمه الله
Hukum Menirukan Suara Binatang
28-11-2021 | 1298 dilihat | Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله